Perkenalkan
dulu ya.. namaku rohadi atau biasa dipanggil cakrohadi . Lahir di ngantang dan
memiliki kakek dan nenek dari Kauman ngantang yang kini sudah berusia sekitar
93 th Jad cerita ngantang dan sekitarnya masih beliau ingat demikian pula
legendanya.
Konon Desa Banturejo yang
mengelilingi lokasi ini didirikan oleh Raden Kyiai Poncoreno salah seorang ahli
waris kerajaan Mataram, Beliau juga penasihat spiritual Pangeran Diponegoro
yang melarikan diri dari kejaran prajurit Belanda. Pada awalnya, Banturejo yang
merupakan wilayah lereng gunung Kelud, dianggap Raden Poncoreno sebagai daerah
yang strategis untuk bersembunyi.
Di sela-sela persembunyian
beliau, banyak warga masyarakat di wilayah NGANTANG yang mendatangi beliau
untuk berguru atau sekedar minta nasihat. Dengan berjalannya waktu dan semakin
banyaknya warga masyarakat di Ngantang yang datang dan Nyantri kepada beliau,
Raden Kyiai Poncoreno semakin terkenal di wilayah Malang Barat khusunya Kota
ngantang. Dan inilah yang oleh beberapa ahli sejarah dianggap sebagai asal-usul
dusun Banu, desa Banturejo. Wilayah dimana Raden Kyiai Poncoreno datang melihat
dan membangun tatanan masyarakat yang majemuk dan madani .. MBAH NO kata sapaan untuk beliau yang merupakan
representasi sebuah penghormatan untuk kedalaman ilmu, kearifan jiwa dan
kebijaksanaan hati ini, akhirnya menjadi nama daerah dimana beliau tinggal dan
membangun padepokan, MBANU atau BANU.
Walaupun beliau seringkali
menjadi tokoh dan ahli spiritual yang mumpuni, baik dalam hal kehidupan
bermasyarakat, maupun dalam kehidupan beragama, khususnya Islam, namun beliau
tetap rendah hati. Walaupun beliau merupakan salah satu penyebar Islam di
wilayah Ngantang Selatan (Kidul Konto), Beliau tetap menghargai perbedaan
keyakinan setiap masyarakat dan penduduk sekitarnya Semangat toleransi inilah
yang diturunkan dan diajarkan Mbah No, Hingga saat ini tetap dipegang teguh
masyarakat Banturejo dan Banu pada umumnya .. Hal ini dibuktikan dengan
keberagaman aliran dan agama di wilayah Banu yang secara geografis tidak
terlalu besar bila dibandingkan dengan dusun-dusun yang lain. Di Desa ini
berdiri 4 Masjid tertua dan terbesar & merupakan masjid jami'/masjid Agung
di wilayah Banu adalah Masjid Baitus Salam. Masjid yang dibangun di era akhir
abad 19 ini, dahulu merupakan basis penyebaran agama islam di wilayah Banturejo
dan sekitarnya. Karena pendirian Masjid jami' ini juga untuk padepokan
pengajaran agama Islam, masjid jami' ini dibangun di wilayah yang tenang dan
tidak terganggu hiruk pikuk jalan raya. Masjid ini berdiri di tengah-tengah
kampung Banu, tepatnya di sekitar depan Balai desa Banturejo.
Raden Kyiai Poncoreno sendiri
dimakamkan di pemakaman umum desa Banturejo, di belakang balai desa Banturejo.
Disamping makam Raden Poncoreno, ada makam istri beliau, makam Raden
Setyowiryo, dan beberapa pejuang Mataram lainnya. Makam Raden Poncoreno ini
seringkali dikunjungi para peziarah dari berbagai daerah di Malang bahkan dari
Jawa Tengah khususnya keluarga kerajaan Kasunanan Surakarta maupun Kasultanan
Ngayogyakarta Hadiningrat
Namun beberapa waktu yang lalu,
sempat muncul kontroversi saat upacara pemindahan makam Raden Poncoreno.
Sebagian tokoh dan ahli Spiritual berpendapat, jika makam yang dikeramatkan
tersebut bukanlah makan Raden Kyiai Poncoreno, namun makam orang lain. Mereka
berpendapat jika makam Raden Poncoreno saat ini berada di kompleks taman wisata
Bendungan Selorejo, tepatnya di area padang Golf.
Di bagian pinggir desa ini
tepatnya di lereng bukit yang membendung Waduk terdapat juga sebuah Makam yang
dikenal sebagai Makam Putri Kleting Kuning, yang konon merupakan Istri dari
Trunojoyo Namun ada juga yang beranggapan jika makam yang membujur ke arah
timur (adat pemakaman membujur ke utara, red) tersebut adalah makam Trunojoyo
sendiri. Selain itu, di desa Banturejo juga terdapat Radio Komunitas yang
menjadi pioner radio komunitas di wilayah Malang Barat, yang meliputi Kecamatan
Pujon, Ngantang dan Kasembon.
Sumber : www.wikipedia.com


Tidak ada komentar:
Posting Komentar