Minggu, 22 Februari 2015

Sejarah Selorejo

Perkenalkan dulu ya.. namaku rohadi atau biasa dipanggil cakrohadi . Lahir di ngantang dan memiliki kakek dan nenek dari Kauman ngantang yang kini sudah berusia sekitar 93 th Jad cerita ngantang dan sekitarnya masih beliau ingat demikian pula legendanya.
Konon Desa Banturejo yang mengelilingi lokasi ini didirikan oleh Raden Kyiai Poncoreno salah seorang ahli waris kerajaan Mataram, Beliau juga penasihat spiritual Pangeran Diponegoro yang melarikan diri dari kejaran prajurit Belanda. Pada awalnya, Banturejo yang merupakan wilayah lereng gunung Kelud, dianggap Raden Poncoreno sebagai daerah yang strategis untuk bersembunyi.

Di sela-sela persembunyian beliau, banyak warga masyarakat di wilayah NGANTANG yang mendatangi beliau untuk berguru atau sekedar minta nasihat. Dengan berjalannya waktu dan semakin banyaknya warga masyarakat di Ngantang yang datang dan Nyantri kepada beliau, Raden Kyiai Poncoreno semakin terkenal di wilayah Malang Barat khusunya Kota ngantang. Dan inilah yang oleh beberapa ahli sejarah dianggap sebagai asal-usul dusun Banu, desa Banturejo. Wilayah dimana Raden Kyiai Poncoreno datang melihat dan membangun tatanan masyarakat yang majemuk dan madani .. MBAH NO  kata sapaan untuk beliau yang merupakan representasi sebuah penghormatan untuk kedalaman ilmu, kearifan jiwa dan kebijaksanaan hati ini, akhirnya menjadi nama daerah dimana beliau tinggal dan membangun padepokan, MBANU atau BANU.
Walaupun beliau seringkali menjadi tokoh dan ahli spiritual yang mumpuni, baik dalam hal kehidupan bermasyarakat, maupun dalam kehidupan beragama, khususnya Islam, namun beliau tetap rendah hati. Walaupun beliau merupakan salah satu penyebar Islam di wilayah Ngantang Selatan (Kidul Konto), Beliau tetap menghargai perbedaan keyakinan setiap masyarakat dan penduduk sekitarnya Semangat toleransi inilah yang diturunkan dan diajarkan Mbah No, Hingga saat ini tetap dipegang teguh masyarakat Banturejo dan Banu pada umumnya .. Hal ini dibuktikan dengan keberagaman aliran dan agama di wilayah Banu yang secara geografis tidak terlalu besar bila dibandingkan dengan dusun-dusun yang lain. Di Desa ini berdiri 4 Masjid tertua dan terbesar & merupakan masjid jami'/masjid Agung di wilayah Banu adalah Masjid Baitus Salam. Masjid yang dibangun di era akhir abad 19 ini, dahulu merupakan basis penyebaran agama islam di wilayah Banturejo dan sekitarnya. Karena pendirian Masjid jami' ini juga untuk padepokan pengajaran agama Islam, masjid jami' ini dibangun di wilayah yang tenang dan tidak terganggu hiruk pikuk jalan raya. Masjid ini berdiri di tengah-tengah kampung Banu, tepatnya di sekitar depan Balai desa Banturejo.
Raden Kyiai Poncoreno sendiri dimakamkan di pemakaman umum desa Banturejo, di belakang balai desa Banturejo. Disamping makam Raden Poncoreno, ada makam istri beliau, makam Raden Setyowiryo, dan beberapa pejuang Mataram lainnya. Makam Raden Poncoreno ini seringkali dikunjungi para peziarah dari berbagai daerah di Malang bahkan dari Jawa Tengah khususnya keluarga kerajaan Kasunanan Surakarta maupun Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat
Namun beberapa waktu yang lalu, sempat muncul kontroversi saat upacara pemindahan makam Raden Poncoreno. Sebagian tokoh dan ahli Spiritual berpendapat, jika makam yang dikeramatkan tersebut bukanlah makan Raden Kyiai Poncoreno, namun makam orang lain. Mereka berpendapat jika makam Raden Poncoreno saat ini berada di kompleks taman wisata Bendungan Selorejo, tepatnya di area padang Golf.

Di bagian pinggir desa ini tepatnya di lereng bukit yang membendung Waduk terdapat juga sebuah Makam yang dikenal sebagai Makam Putri Kleting Kuning, yang konon merupakan Istri dari Trunojoyo Namun ada juga yang beranggapan jika makam yang membujur ke arah timur (adat pemakaman membujur ke utara, red) tersebut adalah makam Trunojoyo sendiri. Selain itu, di desa Banturejo juga terdapat Radio Komunitas yang menjadi pioner radio komunitas di wilayah Malang Barat, yang meliputi Kecamatan Pujon, Ngantang dan Kasembon.


Sumber : www.wikipedia.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar